Monday, March 2, 2009

Majalah Remaja HAI era 1970an dan 1980an



Bagai menemukan Dunia Yang Hilang, begitu saya mendapatkan Majalah HAI era 1970-1980an lewat lapak-lapak majalah/koran bekas. Nggak tanggung-tanggung jumlahnya sampai 80 eksemplar. Bukan lewat dokumentasi Redaksi HAI lho, (jangan-jangan Dokumentasi HAI malah gak lengkap?).

Majalah HAI yg era ini secara langsung dan tidak langsung telah membentuk diri gue sejak kelas V SD hingga SMA. setelah itu gue malas dan tidak beli lagi Majalah HAI yang era Generasi Macan atau Generasi era 2000,yang ikonnya Henry Hendarto itu (sambil naik motor gede). HAI saat itu yang gue suka banyak banget: jelas komik Trigan, Arad dan Maya, petualangan Steven Severijn (ada episodenya ke Indonesia), Storm, Rahan, Komik Misteri, Coki si Pelukis Cepat, Imung, Rumah Masa Depan, ACI, tulisan/laporan konser musik, Laput : Breakdance, tulisan/artikel Militer/pesawat canggih. Gak heran gue hapal nama/jenis pesawat NATO, Sovyet, AS. Waktu gue SMP, pin up Pesawat2 itu gue pasang sbg cover buku-buku pelajaran gue. Karena merasa sayang pin up pesawat bonus HAI, kadang gue fotocopy.

Kayaknya bangga banget kalau pamer di depan temen sekolah. Kesannya gagah dan gaul. Cerpen2nya di HAI saat itu juga dahsyat, selain cerpennya Hilman, juga ada cerpen Leila Chudori, Ags Arya Dipayana, Bung Smas, Dwianto Setyawan, Katyusha, dsb. Tulisan musiknya Denny MR (jangan ge-er Kang Deny), Tulisan musiknya Mas Iwan juga "Laki Banget", tulisan2nya Mas Wendo dalam pergaulan sehat dengan inisial "a". Mbak Retno dengan rubrik Mbak Retno. Rubrik Halo Dokter juga menarik, apalagi yg menjurus ke tanya jawab seks.

Hebatnya HAI era 1970-1980an, menampilkan tulisan-tulisan yang diluar wilayah remaja. Tapi gue suka, misal : feature2 tentang kerajinan, kuliner, wisata ke kota-kota kecil di Indonesia, yang tentu agak2 kurang cocok buat remaja. Percaya atau tidak, HAI pernah bikin tulisan ttg industri gedek krupuk, teh poci, coklat, dan anyaman bambu (mirip program teve Dari Desa ke Desa), tapi gue suka.

Tak heran bila gue hapal sama nama-nama/inisial para wartawan/pengasuh rubrik di HAI spt : Mbak Retno, Irene Suliana, Frans Kowa, Snm, Bis, Marlini Hasan, Li2, Ve2n, Gun, dsb. Juga tak kalah dahsyat, para ilustrator di HAI spt Mas Wedha (cerpen2 di HAI seolah jadi riil banget krn karya mereka, spt judul cerpen " Pertemuan Tanggal 5," gue inget banget ilustrasinya yg bikin Mas Wedha. Juga Mas Kochis, Mas Aries (eh, skrg malah sekantor), Jadi maaf aja Gola Gong, kalau gue nggak akrab sama Balada Si Roy, dan generasi para penulis yang berkiprah di HAI setelah Gola Gong.

Karena entah kenapa gue jd males setelah HAI jadi majalah remaja pria. Lucunya lagi gue malah pernah cari nafkah di HAI setelah HAI menjadi Majalah Remaja Pria itu (1995-1998). Hi. . hi. . .


9 comments:

wedha ar said...

Gila, sampe 80 Hai jadul? Jadi pengen ikut liat Niel.Aku sendiri cuma punya beberapa,padahal perjalananku sebagian besar terdokumen di situ.Daniel, kapan-kapan boleh khan ikut ngliat? Trimakasih sebelumnya.

Marlini said...

Heibat Neil, kamu ingat semua penulis di Hai tempo doelo. Jadi kangen nih ketemuan sama teman-teman mantan Hai... apa khabar Mas Wedha, masih ingat Marlini?

Marlini said...

Heibat ada orang seperti Dadiel. Saya jadi pengen nostalgia nih, lihat tulisan saya (lagi) di Hai dan ngobrol sama Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang baik di Hai doloe.... Halo Mas Wedha, apa khabar?

althekill09 said...

kalau aja bisa dapet koleksi hai tahun 2 awal waduh enak bener deh ya....

Harsanto said...

Saya beli (atau langganan ya) Majalah Hai sejak terbit awal. Saya memang tidak hafal semua penulis, tapi memang sejak saya kelas 5 SD (sekitar tahun 78 an atau lebih awal lagi saya agak lupa), dan di rumah ada dua majalah Bobo (Juga sejak terbit 1973 No. Perdana saya sudah baca) dan Hai. Tidak anel yang di tulis bung Daniel, dan sekarang sudah tidak ada lagi. Trims Mas Daniel

Nien Primahazari said...

Dear pak Daniel,

apakah mungkin jika saya diijinkan mengintip versi pdf / jpg dari majalah2 tersebut? karena koleksi saya hilang ditelan rayap..

terima kasih sebelumnya

Pasar Ireng said...

Sori kalau terlambat, tapi saya SETUJU dg Nien Primahazari diatas, SELAYAKNYA majalah2 HAI khususnya tahun 70an-80an tsb (saya setuju dg mas Daniel bahwa yg sesudah itu sudah tidak terlalu 'perlu' lagi) di-SCAN dan dijadikan pdf sbg upaya 'pelestarian' (karena sudah langka dan akan semakin langka atau bahkan bisa2 punah)..dan juga spy generasi muda skrg bisa mengambil manfaat darinya, atau minimal sekali, menjadikannya bahan referensi/perbandingan dg apa yg mereka miliki saat ini.

Terima kasih. Semoga menjadi perhatian mas Daniel atau siapapun.

Eva Gusra said...

Saya langganan majala hai sejak pertama terbit. Ada cerbung yg gk sempat sy baca sampai selesai krn sy keburu pindah sekolah ke padang. Judulny " Meski antik cintapun cantik". Ada gk tmen2 yg punya koleksiny ?Tq.

Eva Gusra said...

Saya langganan majala hai sejak pertama terbit. Ada cerbung yg gk sempat sy baca sampai selesai krn sy keburu pindah sekolah ke padang. Judulny " Meski antik cintapun cantik". Ada gk tmen2 yg punya koleksiny ?Tq.